Perjalanan Sang Frontman Terbaik : Dari Farrokh Bulsara Hingga Menjadi Freddie Mercury

KNEBWORTH, UNITED KINGDOM - AUGUST 09: Queen plays Knebworth, the last concert on the Magic Tour on August 09, 1986 in Knebworth, United Kingdom. (Photo by FG/Bauer-Griffin/Getty Images) 170612F1

Perjalanan Sang Frontman Terbaik : Dari Farrokh Bulsara Hingga Menjadi Freddie Mercury – Di tahun 2018 keluarlah sebuah film drama biografi yang ceritanya berfokus pada vokalis yang sering kali disebut sebut sebagai frontman terbaik, namun 134 menit tak cukup untuk menceritakan cerita awal hidup sang frontman legendaris ini.

Maka dari itu di kesempatan kali ini admin ingin mencoba untuk membagikan cerita tentang perjalanan sang vokalis legendaris ini mulai dari awal hidupnya hingga terbentuknya band legendaris ini.

Freddie Mercury memiliki nama asli Farrokh Bulsara dan lahir di Zanzibar pada tanggal 5 September 1946. Ia tinggal dan besar dinegara itu hingga orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Inggris saat usianya menginjak 18 tahun. Keputusan pindah ini diambil karena pada saat itu Zanzibar memang sedang mengalami sebuah revolusi yang membuat keadaan di negara tersebut sangatlah kacau.

Perjalanan Sang Frontman Terbaik : Dari Farrokh Bulsara Hingga Menjadi Freddie Mercury

Setelah menetap di Inggris ia berkuliah di Ealing Art College mengambil jurusan seni grafis dan design, skill yang ia dapatkan dari bangku kuliah ini ia perlihatkan ketika ia membuat logo dari band miliknya yang memang terlihat sangatlah artistik.

Setelah lulus ia mulai bekerja sebagai penjual baju bekas di Kensington Market. Dan disaat bekerja sebagai penjual baju bekas inilah ia berkenalan dengan Roger Taylor. Saat itu Taylor sedang berada pada sebuah band yang bernama SMILE bersama dengan Brian May dan juga Tim Staffell.

Freddie sendiri bisa dibilang adalah seorang penggemar berat dari band smile ini bahkan ketika tim memutuskan untuk keluar dari band tersebut, ia terus mendesak May dan Taylor untuk terus berkarya dan hingga akhirnya pada tahun 1971 terbentuklah Queen dengan formasi seperti yang kita kenal setelah John Deacon pun bergabung dengan mereka bertiga.

Pada tahun sebelumnya band ini mulai menarik perhatian seorang produser musik yaitu John Anthony ketika mendengarkan mereka beraksi pada sebuah cafe di London. Hingga akhirnya pada tahun 1973 Freddie bersama dengan ketiga rekannya mulai mempromosikan album mereka di BBC Radio.

Karir Freddie dan juga teman temannya mulai naik secara drastis ketika lagu “Seven Seas of Rhye” yang merupakan salah satu single di album kedua mereka berhasil menduduki posisi 10 pada UK Albums Chart tahun 1973.

Naiknya pamor band ini membuat mereka berpartisipasi di Sunbury Pop Festival yang di adakan di Australia pada Januari tahun 1974, namun karena saat itu mereka belum banyak dikenal oleh para penikmat musik diluar negeri maka banyak sekali penonton yang mengejek dan berteriak ketika Queen sedang berada diatas panggung.

Bukannya ciut, semangat Freddie malah semakin membara mendengar ejekan dari para penonton ini. Bahkan pada akhir konser ia pun mulai membalas para penonton dengan memberikan pernyataan “Ketika kami kembali ke Australia, Queen akan menjadi band terbesar di dunia” .

4 bulan kemudian, ia dan teman temannya mulai mempromosikan diri mereka ke Amerika Serikat. Tak seperti konser internasional mereka sebelumnya, respon terhadap band ini diterima dengan sangat baik. Terlebih memang di tahun itu mereka mengeluarkan single berjudul “Killer Queen” yang sangat populer hingga saat ini.

Karir Freddie terus menanjak hingga tahun 1985 yang bisa dibilang adalah puncak kejayaan dari band Queen ini. Di tahun ini memang adalah tahun terjadinya konser live aid yang menjadi sumber cerita film Bohemian Rhapsody.

Sayangnya kesehatan mercury mulai turun hingga akhirnya iapun mengumumkan bahwa ia sudah terjangkit virus HIV Aids di tahun 1990. Walau dalam kesehatan yang semakin buruk namun semangatnya yang dalam berkarya masih sangat tinggi.

Bahkan walaupun sudah tidak bisa lagi tampil dimuka publik, ia masih bisa menyanyikan lagu terakhirnya yaitu The Show Must Go On dengan sangat sempurna.

24 November 1991 bisa dibilang adalah hari kelam bagi seluruh pecinta musik diseluruh dunia, karena pada hari itu sang frontman terbaik ini harus tutup usia pada usia 45 tahun.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *